
Suatu
hari di kota Malang,, terdengar ketukan dari luar pintu rumahku, ku lihat ada segerombolan tentara memakai seragam
lengkap berada di teras rumahku. “apa benar ini rumah Pak Hadi?” tanya
salah satu prajurit itu kepadaku. “iya betul, ada apa ya mas?” tanyaku. “kami
mencari rumah kos, untuk menginap beberapa hari.” jawabnya. Aku pun
mempersilahkan segerombolan tentara itu masuk ke dalam rumah, lalu mereka pun
dijamu oleh ayah dan ibuku. Tapi yang
berbeda waktu itu, mataku tertuju pada salah satu tentara yang duduk berada di
ujung kursi warna biru.
Keesokan
paginya, aku bergegas pergi menuju kampus. Namun, langkahku terhenti sejenak
melihat Dia (Tentara yang telah mencuri pandanganku, semalam). Langkah tegapnya
berjalan menuju ke arahku, tanpa basa-basi dia pun melontarkan kata “hai” lalu
disambungnya lagi beberapa pertanyaan yang mampu ku duga sebelumnya. “mau
kemana dek?” tanya tentara itu. “ke pantai mas,” jawabku singkat. “kesana sama siapa
aja???” tanya dia. “Sama temen kuliah mas.”
Jawabku. “ohh,, masih kuliah yah? Semester berapa dek?” tanya dia lagi. “iya
mas,, masih kuliah, baru semester 3. Udah dulu ya mas, udah keburu nih.”
Jawabku sambil berlalu. “loh,, loh
lohh,, tunggu,, aku belum tau siapa namamu???" teriaknya. “Tanya ke ibuku
aja mas! Siapa namaku ini!” sahutku dari
jauh sambil tertawa lirih.
Digerbang
kampus udah terlihat teman-teman seperjuanganku. Ada Ryan, Ratna, Avrin, Setya dan Rosyad. Aku
pun berlari menghampiri mereka, “maaf aku telat!!” kataku ngos-ngosan. Sambil
menaruh perlengkapan ke dalam mobil.
Tiba-tiba terdengar suara lantang dari Ryan “sudah hadir semua kan??? Vrin,
tolong anak-anak kamu absen dulu !!!” perintah Ryan.
“ehh
wii, kamu tadi kemana aja sih?? Anak-anak pada ngomel tuh!!” bisik Ratna. “hehehe,,
maaf Naa, tadi itu ane diintrogasi ama tentara.” Jawabku. “hah??? Yang bener??
Emang kamu salah apa sampai-sampai diintrogasi??” tanya Ratna lagi. “jadi gini
ceritanya, semalem itu ada segerombolan tentara dateng ke rumah, dan tadi pagi,
aku disamperin ama salah satu dari mereka.” Ceritaku kepada Ratna dengan pasang
muka serius. “emang kamu semalem buat salah apa sih wii?” tanya Ratna
penasaran. “gak ada sih” jawabku enteng. “terus diintrogasi gimana tadi?” tanya
Ratna lagi. “diintrogasi gini, Mau kemana dek? Kepantai sama siapa? Loh masih
kuliah tah? Semester berapa? Namamu siapa dek?” jawabku serius. “Glodakkkk,,
itu sih namanya bukan introgasi, tapi basa-basi pengen kenalan wii!!!!” sambil
menjewer telingaku.
Lalu
terdengar suara ponselku berdering. “Hallo, selamat pagi.
Dengan siapa ya?” tanyaku lewat telepon. “hallo wii. Ini aku, yang tadi pagi
nyamperin kamu” jawabnya dari sebrang ponselku. “ohh si Om tentara” jawabku. “kog
si Om Tentara?? Tanya dia heran. “lah aku kan gak tau nama kamu mas? Ya aku
panggil aja Om tentara” jawabku singkat. “iya juga yah,, kenalin namaku Tyan
asli dari P.Sumatera yang sedang merantau ke tanah Jawa” Jawabnya.
“hahahahaha,,, selengkap itu ya? Kalau tentara kenalan??” kataku. ”gak juga
sih? Cuma ke Dewi aja.” Kata Tyan agak gombal. “lohh,, udah tau namaku
ternyata,” tanyaku. “iya lah,, namanya juga tentara, ya cepet nyari informasi?”
jawabnya. “iya cepet dan patas. Ehh mas Tyan,, udah dulu yah,, aku mau
berangkat nih! Ntar lanjut lagi telpnya” kataku. “ohh, iya Dewi, ati-ati dijalan
yah.” Kata Tyan. Telp kami pun berakhir.
Aku
beserta rombongan segera berangkat menuju tempat tujuan kami, Pantai Segoro Anakan,
disana kami membangun tenda dan membuat api unggun, sehari semalam kami
menghabiskan waktu bersama,, melihat sun set dipinggir pantai,, menikmati suasana pantai, serta memandangi bintang dan bulan yang saling menemani satu sama lain
di malam hari.
Keesokan
harinya,, kami pun pulang menuju Malang.
Kami berpisah di kampus, dan alangkah terkejutnya aku, saat mataku melihat sosok
tegap, gagah, duduk di atas sepeda motor menggunakan jaket kulit bewarna hitam,
t-shirt berwarna kecoklatan, jam tangan yang melingkar di pergelangan
tangannya, dan tak lupa topi yang menutupi rambut cepaknya. “Tyan” menjemputku.
“loh? Kog kamu yang jemput??” tanyaku heran. “kakakmu keluar,
bapak ada pertemuan di lanal, ibu minta tolong ke aku, untuk jemput kamu, ya
udah aku jemput aja. Ayo cepet naik!” perintah Tyan. Lalu bergegas menuju
rumah.
Sudah
lima hari, para segerombolan tentara ini berada di rumahku, dan kini tibalah
mereka untuk berpamitan meninggalkan rumah kos-kosanku, untuk kembali
beraktifitas di dalam asrama. Sebulan sampai empat bulan mereka rutin
mengunjungi rumahku setiap weekkend, begitu pun dengan Tyan, yang selalu
mewarnai hari-hariku, meskipun saat itu kami masih belum resmi jadian. Satu tahun sudah kami
berkenalan, dan saling mengerti satu sama lain. Tapi kami masih belum juga
resmi jadian.
Tiba-tiba aku mendengar berita bahwa akan ada penempatan dinas. Lemas, tak berdaya saat
mendengar berita itu. Namun begitu bahagianya aku ketika mengetahui bahwa dia
berdinas di Malang. “Dewi,, sepertinya selama 6 bulan atau 8 bulan aku gak bisa
ke rumah dulu. Ada penerjunan di Bandung.” Katan Tyan. “hah?? selama itukah ???”
tanyaku. “iya,,” jawabnya. Sudah delapan bulan, hari-hariku berlalu tanpa
kehadirannya..
Bulan
Ramadhan pun tiba, terlihat sosok yang gak asing dalam pengelihatanku. “Tyan”
dia ada dihadapanku. Benarkah dia??? Seseorang yang selama ini aku nantikan
kehadirannya, kini ada di depan mataku. “ini aku wii,, Tyan!!!” mencoba
meyakinkanku. “maafkan aku, baru sekarang aku bisa ngabarin kamu, selama berbulan-bulan
lamanya.” Tambahnya sambil memegang erat kedua tanganku. “Aku balik buat kamu,
dan ada satu hal yang ingin aku ungkapkan ke kamu. AKU SAYANG KAMU, Maaf aku baru berani
mengungkapkannya sekarang. Kamu mau kan jadi pacarku?” imbuhnya. Betapa bahagianya aku
mendengar kalimat itu, setelah sekian lamanya menanti, dan tanpa pikir panjang
aku langsung bilang “IYA, aku mau jadi pacar kamu, sebetulnya selama ini aku juga
nyimpan perasaan ini ke kamu.” jawabku malu-malu.
Akhirnya
kami pun resmi menjadi sepasang kekasih, hari-hariku bersamanya begitu
berwarna, indah, dan tak berkurang sekecil apapun, terasa lengkap akan
kehadirannya. Namun kami tak seperti pasangan lain pada umumnya. Keterbatasan
waktu lah yang membuat hubungan kami berbeda dengan pasangan lainnya. Terkadang
kami hanya bisa bertemu tiga bulan sekali bahkan bisa enam bulan sekali. Walau
begitu, aku bangga mempunyai kekasih seperti dia, tak hanya mencintaiku setulus
hatinya, melainkan mencintai negara tanpa batas.
Suatu
hari,, aku mendengar berita, Tyan, yang begitu istimewa dalam hidupku seketika berubah
menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa. Dia telah menghianati tulusnya cintaku,
menghianati janji-janji yang pernah kami buat. Semua itu sirna dalam sekejap, saat aku tau bahwa diam-diam, dia bermain api dengan kawanku, Ira. Saat itu juga,
aku memutuskan hubungan yang telah kami jalani. Kecewa, sedih, menangis itu
yang aku rasa. Berkali-kali dia mencoba menghubungiku entah telpon, sms, ataupun BBM.
Empat
minggu berlalu, dia masih tetap berusaha menghubungiku, hingga akhirnya dia
bisa keluar dari asrama dan menemuiku dengan memakai seragam loreng
lengkapnya yang terlihat begitu gagah, dan
berwibawa . “maafkan aku Dewi, maafkan aku. Aku tau aku yang salah, aku
yang bodoh, tak seharusnya aku melakukan ini padamu, maafkan aku, aku masih
sayang kamu. Aku tau kamu masih sayang
sama aku! Jadi tolong maafkan aku, kembalilah padaku wii!” katanya sambil memeluk
erat tubuhku, lalu sedikit demi sedikit menatap kedalam dua bola mataku. Diulanginya
sekali lagi, sambil meyakinkanku bahwa keputusan yang telah ku ambil kemarin
salah. Serentak aku menjawab “Tidak,”
“kenapa wii?” tanyanya heran sambil
melepas pelukkannya. “maaf Tyan, aku gak bisa lagi untuk kembali padamu, udah
terlalu kecewa dan sakit yang aku rasa, aku gak mau mengulang kesalahan yang
sama dengan kembali padamu.”
Itulah
kalimat terakhir yang aku dengar dari Tyan, seorang Tentara dari tanah Sumatera
yang pernah singgah dalam kerajaan hatiku dan menjadi pemeran utama dalam
kehidupan cintaku.

0 komentar:
Posting Komentar